Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan tren pelemahan pada perdagangan Kamis (4/6/2026) dan sempat menembus level Rp 18.000 per dolar AS.
Nilai tukar rupiah diproyeksikan bergerak fluktuatif pada perdagangan hari ini di tengah meningkatnya perhatian pasar terhadap perkembangan konflik Timur Tengah, khususnya hubungan Iran dan AS.
Tekanan pada rupiah dinilai mulai memicu gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK), terutama di perusahaan yang bergantung pada impor bahan baku dan komponen produksi.
Melonjaknya harga kedelai akibat nilai tukar rupiah yang melemah membuat harga produk keripik tempe skala rumahan ikut naik Rp 5.000 dari sebelumnya Rp 75 ribu per kg menjadi Rp 80 ribu per kg.
BI memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan 50 bps ke level 5,25 % dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 19-20 Mei 2026 guna menjaga stabilitas rupiah.
Kurs rupiah loyo menjelang pidato Presiden Prabowo Subianto terkait Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal RAPBN 2027 di Gedung DPR pagi ini.
Dari sisi domestik, tekanan terhadap rupiah muncul dari kebutuhan impor minyak mentah, musim pembayaran dividen hingga pembayaran utang pemerintah yang jatuh tempo.