Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pelemahan Nilai Tukar Rupiah tidak akan membawa Indonesia ke krisis ekonomi seperti 1998, meskipun mata uang telah tembus Rp18.000 per dolar AS.
Mensesneg Prasetyo Hadi menyatakan pemerintah serius menangani tekanan pada Rupiah dan menerima aspirasi BEM SI sebagai masukan untuk perbaikan perekonomian.
Sektor farmasi, elektronik, tekstil, plastik, kimia, otomotif, serta industri makanan dan minuman dinilai menjadi kelompok yang paling rentan terdampak pelemahan rupiah.
Rupiah dibuka melemah ke Rp 18.106 per dolar AS dan berpotensi tertekan lebih dalam akibat penguatan dolar AS serta meningkatnya ketidakpastian global.
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengatakan, pergerakan rupiah dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kondisi fundamental ekonomi hingga faktor eksternal dan aktivitas pasar.
Pelemahan nilai tukar rupiah memberikan tekanan berlapis terhadap industri kemasan nasional. Selain meningkatkan biaya bahan baku impor, sektor ini juga harus menghadapi perlambatan permintaan
Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, pergerakan rupiah dipengaruhi penguatan indeks dolar AS di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Pelemahan rupiah yang terus terjadi belakangan ini mendorong sebagian pelaku usaha dalam negeri untuk mengatur ulang strategi bisnis mereka. Hal itu juga berlaku bagi sejumlah emiten ritel modern.
Ganjar Pranowo dan Anies Baswedan menyerukan pemerintah Prabowo untuk serius menangani pelemahan Nilai Tukar Rupiah dan mengembalikan kepercayaan publik demi stabilitas ekonomi.
Pergerakan nilai tukar rupiah kembali mengawali perdagangan di pasar mata uang dengan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir pekan ini, Jumat (5/6).