Bagaimana Kabar Saham-saham Grup Bakrie?


KATADATA | Agung Samosir
KATADATA – Meski pernah merajai lantai bursa pada periode 2007-2008, kinerja saham-saham emiten Grup Bakrie kini melorot. Bahkan beberapa di antaranya diperdagangkan di level harga terendah dan tidak menunjukkan adanya tanda-tanda aktivitas.
 
Salah satu emiten yang masih menunjukkan geliat adalah PT Bumi Resources Tbk. Pada penutupan perdagangan Selasa (17/9), saham emiten berkode BUMI tersebut ditutup pada harga Rp 455 per saham, naik 20 poin dari hari sebelumnya. Namun jika dibandingkan harga pada awal tahun, harga saham BUMI sudah turun 23 persen.
 
Kinerja saham BUMI erat dengan harga komoditas di pasar internasional. Ketika harga batubara mencapai harga tertinggi pada Juni 2008 senilai US$ 173 per metrik ton, saham BUMI meroket hingga Rp 8.550 per saham. Namun seiring dengan penurunan harga batubara, saham BUMI pun ikut melorot. Bahkan sejak pertengahan Agustus tahun lalu harga saham BUMI tidak pernah tembus level Rp 1.000.
 
Selain faktor harga komoditas, kinerja BUMI juga dipengaruhi besaran utangnya. Pada kuartal I-2013, rasio utang terhadap ekuitas (debt to equity ratio) perseroan tercatat sebesar 1.532 persen. Padahal, emiten batubara lainnya, seperti PT Adaro Energy Tbk dan PT Bayan Resources Group Tbk rasionya masing-masing hanya 77 persen dan 88 persen.
 
Dalam laporan keuangan kuartal I-2013 PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), anak perusahaan BUMI, disebutkan utang perseroan kepada Credit Suisse AG, Cabang Singapura senilai US$ 316 juta dan US$ 100 juta akan jatuh tempo pada 18 dan 19 September 2013. Kendati demikian, seperti diberitakan Bloomber pada 12 Agustus lalu, BUMI masih mendapatkan perpanjangan utang senilai US$ 150 juta selama 15 bulan.
 
S&P, dalam pernyataannya, menilai refinancing BRMS akan sulit dilakukan jika BUMI sebagai induk perusahaan tidak melakukan terobosan, seperti mengajukan proposal penjualan BRMS. “Struktur modal BUMI tidak berkelanjutan kecuali perusahaan melakukan restrukturisasi atau mengurangi aset melalui penjualan aset-asetnya,” kata S&P seperti dikutip dari Bloomberg.
 
Saham Bumi Resources Minerals dalam perdagangan kemarin ditutup pada harga Rp 200, menguat 3 persen dalam sebulan. Tapi jika dibandingkan posisi pada awal tahun, saham BRMS sudah turun 20 persen.
 
Sementara saham PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) berada di harga Rp 164, turun 16 persen posisi awal tahun. Begitu juga dengan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) yang harganya hanya Rp 92 per saham pada penutupan perdagangan Selasa (17/9).
 
Saham Grup Bakrie yang masih terlihat aktif lainnya adalah PT Visi Media Asia Tbk (VIVA). Pada perdagangan Selasa sahamnnya ditutup pada harga Rp 190, turun 66 persen dari awal tahun.
 
Adapun saham-saham lainnya seperti PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL), PT Bakrie and Brothers Tbk (BNBR), PT Bakrieland Development Tbk (ELTY), PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP), dan PT Darma Henwa Tbk (DEWA) merupakan saham tidur. Sudah berbulan-bulan harga saham emiten-emiten tersebut berada di level terendah Rp 50 per saham.
 
Bursa Efek Indonesia pada 10 September lalu mensuspensi saham ELTY karena ada gugatan pailit oleh Bank of New York cabang London. Hal ini terkait utang anak perusahaannya BLD Investment Pte Ltd senilai US$ 155 juta yang jatuh temponya dipercepat menjadi 23 Maret 2013.

BOOK PUBLICATION